close

Review Novel Sang Patriot Karya Irma Devita

home

Review Novel Sang Patriot Karya Irma Devita

bencot.blogspot.com

Review Novel Sang Patriot Karya Irma Devita

Review Novel Sang Patriot Karya Irma Devita


Padahal saya sudah merencanakan sejak sepuluh hari yang lalu, untuk turut serta di Lomba Review Novel Sang Patriot, Sebuah Epos Kepahlawanan. Eh, nggak tahunya baru bisa posting hari ini. Benar kata pepatah, kita hanya bisa merencanakan, Tuhan penentunya. Agagaga, alasan thok!

Novel yang ada di tangan saya ini, covernya didominasi warna jingga cerah. Barangkali penulisnya ingin memberi kesan hangat dan bersemangat. Selain disertai judul novel dan penulisnya, terpampang dalam cover sebuah stempel. Based on true story alias berdasarkan kisah nyata. Tepat di atas stempel ada kalimat seperti ini; Api dan bara tak akan menyurutkan langkahku. Derita dan luka tak akan mematahkan semangatku. Demi bangsa ini!

Seperti buku-buku pada umumnya, dalam novel karya Irma Devita terdapat pula lembar apresiasi, sekapur sirih, isi buku, juga prolog. Penguatan isi buku juga ditemui di cover belakang. Disebutkan oleh penulis di cover belakang, bahwa era 1942 - 1949 merupakan perang paling berdarah dalam lembaran kelam sejarah Indonesia. Mungkin akan menjadi menarik jika penulis fokus pada satu periode saja. Masa kependudukan Jepang atau masa revolusi. Jika menceritakan periode transisi, maka secara waktu akan tampak mengerucut namun meluas secara ruang.

Waduh, belepotan. Maksud saya, sejarah tak lepas dari ruang dan waktu.

Lembar demi lembar

Saya sedikit terganggu dengan lembar pembuka yang ditampilkan penulis. Di halaman 3 dan 4, ia memulainya dengan kisah Legenda Calon Arang. Meskipun saya mengerti, penulis hanya ingin membuka beberan akan masa kecil Mochammad Sroedji di Gurah, Kediri.Syukurlah, serentetan cerita di halaman berikutnya (5 - 12) berhasil membuat saya urung memarkir novel dengan halaman terakhir 266 ini.

Di sesi 'Mimpi Anak Pedagang' diceritakan tentang keinginan kuat seorang Sroedji untuk bersekolah, sementara keluarga ingin sekali mengajaknya untuk berhaji di Mekkah. Hasan, Ayah Sroedji, ingin sekali membawa istri tercinta beserta tujuh anak-anaknya untuk berhaji. Hasan memang lahir dan besar di lingkungan pesantren di Madura. Ia juga lebih mengutamakan anak-anaknya pandai baca Al Quran dan fasih Arab gundul ketimbang belajar di sekolah formal. Hasan tak peduli menskipun ongkos naik haji di masa itu (masa-masa yang sulit) terbilang sangat mahal lagi sukar. Untuk ke Mekkah, kita bisa menghabiskan waktu enam bulan naik kapal laut. Tapi Hasan tetap memikirkannya. Ketika itu Sroedji sudah berusia 14 tahun.

Ketika masa itu tiba, dimana pihak keluarga mengajak Sroedji untuk turut serta berhaji, di titik inilah konflik dimulai. Sroedji lebih memilih untuk melanjutkan pendidikan di sekolah formal. Dia memohon pada Ayahnya. Di sini seperti ada konflik antara mana yang harus didahulukan, pendidikan spiritual ataukah sekuler. Pilihan sulit di masa yang tidak mudah.

Beruntung Sroedji memiliki orang tua yang cukup berwawasan (oleh pengalaman) dan tidak kaku dalam memandang persoalan. Barangkali Sroedji muda memiliki pemikiran bahwa ruang-ruang pendidikan era 1930an harus direbut, bahasa penjajah harus dikuasai agar kita mengerti apa yang mereka rencanakan. Kalau dipikirkan di era kekinian, sepertinya akan menjadi sulit.Kita akan memiliki tafsir yang berbeda.

Sesi yang manis juga ditemui dalam novel ini, terlebih di bagian ketika Sroedji dan Rukmini saling jatuh cinta.

Di halaman 38, saya mulai mengerutkan dahi. Mulai berpikir. Mulai terseret dalam banyak istilah militer. Ini hampir berlangsung terus menerus hingga novel tersebut usai saya baca. Jadi ingat sosok AH. Nasution, salah satu pengusung sejarah kemiliteran Indonesia.

Novel Sang Patriot

Menurut KBBI, pengertian novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Menurut saya yang jarang sekali membaca novel sastra, penulis sudah berhasil memenuhi kriteria dari definisi sebuah novel. Penulis juga tidak sedang memaksa pembaca untuk satu kesepemahaman bahwa karya tulisnya adalah sebentuk novel sejarah. Yang dilakukan penulis hanyalah memberi stempel 'Based on true story' saja. Bagi saya, itu sudah cukup.

Review Novel Sang Patriot Karya Irma Devita


Foto di atas saya temukan di facebook Mas RZ Hakim yang dikirimi oleh salah satu temannya. Namanya Mas Rinaldy Purwanto. Senang membaca kalimatnya, membuat saya berpikir dan merenung.

Novel Sang Patriot karya Irma Devita, diangkat dari kisah nyata, dikemas secara fiksi, berharap mampu menyampaikan pesan bahwa kemerdekaan kita hari ini, kedaulatan atas tanah air dan udara segar, direngkuh dengan proses perjuangan yang tidak murah dan sebentar.

Terakhir, saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip pemikiran seorang AF. Jauhari. Menurutnya, terkadang penulis mengokupasi kata untuk mengarahkannya pada apa yang ia mau. Bagi saya, pendudukan kata ibarat jebakan batman.

Dalam sebuah karya tulis, subyektifitas itu kadang berwujud seperti hantu. Tapi saya percaya, penulis sudah mencoba sekuat tenaga untuk obyektif. Dijelaskan dalam lembar terakhir bahwa penulis berlatar belakang pendidikan sebagai seorang praktisi hukum. Novel Sang Patriot ini adalah karyanya yang kedelapan. Tujuh buku sebelumnya, semuanya bicara tentang hukum. Ini merupakan debut perdananya dalam gaya penulisan yang berbeda.

Berarti, saya yang seorang tamatan Teknik Elektro UJ ini bisa juga dong bikin sebuah buku, agagaga.

Share

4 Comments on Bencot: Review Novel Sang Patriot Karya Irma Devita

  • Jaswan
    on May 13, 2014 | 12:22 Jaswansaid :
    "Turut berbangga dan semoga berjaya ya mas. Reviewnya keren abis pokoknya."
  • RZ Hakim
    on May 18, 2014 | 23:58 RZ Hakimsaid :
    "Terima kasih atas partisipasinya :)"
  • Bencot
    on December 27, 2014 | 12:03 Bencotsaid :
    "kesuwon"
  • Bencot
    on December 27, 2014 | 12:04 Bencotsaid :
    "wes mari njurine mas?"
Review Novel Sang Patriot Karya Irma Devita

Report "Review Novel Sang Patriot Karya Irma Devita"

Are you sure you want to report this post for ?

Cancel
×